Meracik Makna di Tiap Cangkir

Perjalanan Difabis Bersama Sahabat Inspiratif dan Pelanggan Setia

Dalam Setiap Teguk,ada Bahasa yang tak Terucap 

Dalam Setiap Teguk, ada Bahasa yang Tak Terucap
Di tengah bisingnya kota yang tak pernah hening, berdiri sebuah kafe kecil yang menyimpan sejuta cerita besar tentang harapan, keberanian, dan kesetaraan.

Berdiri di Jalan Kendal, bersembunyi di balik riuhnya Dukuh Atas, di antara hiruk-pikuk yang berlalu-lalang tanpa benar-benar melihat.

Namanya Difabis Coffee & Tea, singkatan dari "Difabel Bisa", bukan sekadar kafe kopi biasa. Di sini memang tak terdengar, tetapi terasa ada nyaringnya semangat yang hidup untuk menggerakkan.

Mobirise Website Builder

Pesan kopi tapi pake isyarat!
Sebelum masuk, yuk Latihan dulu di poster depan kafe ini (Kerren Permata)

Lokasi Difabis Coffee & Tea

Mobirise Website Builder

Sebelum memesan, terpampang jelas bertuliskan ' Halo Saya Tuli '
Sebuah sambutan hangat yang tak terlupakan (Kerren Permata)

Kisah Zahra dan Lahirnya Difabis

Di antara kehangatan cangkir kopi dan heningnya sapaan, hadir seorang figur yang menjadi penghubung antara dua dunia. Namanya Az Zahra Saputri, perempuan tangguh, lulusan perguruan tinggi yang kini memilih untuk mengabdi sebagai penanggung jawab di kafe Difabis.

Dalam sebuah obrolan hangat, Zahra menceritakan awal lahirnya Difabis. Semua berawal dari sebuah kebijakan, ide perubahan yang tumbuh dari niat baik saat Anies Baswedan masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Difabis mulai berdiri pada bulan April 2021. Kala itu, adanya dorongan kuat pemerintah untuk membuka ruang kerja lewat program inklusi, tempat di mana penyandang disabilitas di berikan ruang kerja terbuka, kemampuan untuk berkarya dan mandiri.

Mobirise Website Builder

Ngobrol santai bareng Zahra dan Kiky (Kerren Permata)

"Di sinilah Difabis berdiri, bukan sekadar kafe, tetapi sebuah rumah bagi harapan dan semangat untuk hidup setara," ungkap Zahra.

Sebuah rumah di mana teman-teman tunarungu tidak hanya diberi tempat, tetapi juga kepercayaan untuk meracik, melayani, dan membuktikan bahwa keterbatasan bukan akhir dari cerita.

"Kami percaya, difabel bisa!" ujar Zahra.

"Awalnya kami cuma punya satu lokasi kecil," ujar Zahra.

"Tetapi sekarang kami sudah punya delapan cabang, termasuk di Wali kota Jakarta Utara, Jakarta Pusat, Dukuh Atas, hingga Jakarta Timur," kata Zahra. 

Dukungan pun hadir dari berbagai pihak mulai dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), PT Kereta Api Indonesia (Persero), PT Moda Integrasi Transportasi Jabodetabek (PT MITJ), hingga Dharma Wanita Persatuan (DWP). 

Gerbang Pertama Menuju Kemandirian

Segalanya dimulai dengan proses perekrutan yang transparan dan adil. Sebagian besar pelayan tuli dan barista dipekerjakan melalui media sosial Instagram atau rekomendasi dari anggota komunitas.

Pelatihan adalah langkah pertama menuju kemandirian.

"Prosesnya tidak instan, kami latih dari nol mulai dari menyeduh kopi, menyapa pelanggan dengan bahasa isyarat, menghitung transaksi, sampai kafe tutup,” ungkap Zahra.

"Kita juga sempat bekerja sama dengan PPKD Jakarta untuk mengadakan pelatihan barista khusus disabilitas selama sebulan," ujar Zahra.

Sebuah langkah kecil yang membuka pintu besar bagi dunia kerja yang selama ini tertutup rapat bagi banyak difabel.

Sistem kerja diatur secara manusiawi melalui pembagian tiga shift dimulai pukul 08.00, dilanjutkan pukul 11.00, dan terakhir pada pukul 14.00. Pergantian waktu ini memberi kesempatan bagi tubuh untuk beristirahat dan jiwa untuk kembali segar, demi menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan.

Difabis: Kopi, Isyarat, dan Harapan

Difabis adalah ruang inspiratif, tempat keterbatasan dijadikan kekuatan. Di luar dugaan, tempat ini membuat pelanggan yang justru banyak belajar.

Mereka datang untuk minum kopi, pulang dengan pelajaran baru dalam hidup tentang bahasa isyarat, empati, dan kesetaraan.

“Mereka tertarik,” kata Zahra

“Bahkan ada yang jadi langganan dan fasih mengucapkan ‘terima kasih’ dalam bahasa isyarat.”

Melalui program "Kopi Dibagi" dan kelas bahasa isyarat, Difabis menjadi gerakan sosial yang menyenangkan. Dari pelanggan biasa hingga komunitas sosial, semua menyatu dalam semangat yang sama merayakan keberagaman dengan kemampuan.

Zahra tak pernah membayangkan dirinya akan menjadi penanggung jawab kafe ini. Ia bingung karena tak menguasai bahasa isyarat dan kurang ekspresif. Tetapi perlahan ia belajar, berkat teman-teman tunarungu yang sabar mengajarinya.

“Sekarang aku bahagia bisa jadi bagian dari Difabis,” ujarnya dengan senyum yang tulus.

Dengan dukungan dari berbagai pihak, Difabis perlahan tumbuh dan menjangkau lebih luas.

Harapan Zahra

Part of story

Meracik tanpa suara

Mobirise Website Builder

Barista Difabis melayani pelanggan di tengah antrean pengunjung (Regina Fadhilah)

Sebuah tempat yang memiliki ruang inklusif bagi penyandang disabilitas, dengan merekrut pegawai tunarungu maupun tunadaksa. Tempat ini tidak hanya membuka ruang inklusi yang lebih luas, tetapi juga menunjukkan komitmen nyata terhadap keberagaman dan kesetaraan di tempat kerja.

Kehadiran mereka menjadi wujud nyata bahwa keterbatasan fisik tidak menjadikan penghalang seseorang untuk berkarya dan memberikan kontribusi terbaik dalam melayani sebuah pelanggan.Dibawah pengawasan Baznas Bazis DKI Jakarta Difabis Coffee & Tea ini berdiri di tengah ibu kota Jakarta dengan tempat yang tidak terlalu besar bernuansa warna cream dan hijau ini terlihat sangat nyaman sekali untuk bersantai di sana.

Program Baznas sangat mendukung untuk orang yang ingin berkembang di suatu keahlian pada fokus ke penyandang disabilitas salah satunya adalah program Difabel Berdikari (Difabis). Para pegawai yang bekerja di Difabis Coffee & Tea kafe ini melakukan pembekalan materi melalui pelatihan yang dilakukan oleh pihak kafe terlebih dahulu.

Pelatihan yang dijalankan oleh para pegawai ini yang sebelum bekerja di kafe akan dilakukan terlebih dahulu para pegawai untuk mengikuti pelatihan dengan rasa senang karena para senior membimbing dengan sabar untuk para pegawai yang akan berkecimpung di dunia kopi ini.

Selain karena pelatih yang sabar tentunya ada para pegawai yang cepat dan tanggap untuk materi yang diutarakan para pelatih. Didalam pelatihan itu akan diajari bagaimana cara membuat kopi dan melayani pelanggan dengan baik dan ramah. 

Dari awal hingga kini,cerita Fajar Malik

Mengenal salah satu pegawai yaitu Fajar Malik dan alasan kenapa nyaman bekerja disini 
(Regina Fadhilah)

Ditemukan di sebuah kios Difabis Coffee & Tea ini bertemu salah satu pegawai terlama yang Bernama Fajar Malik, seorang pria berusia 26 tahun merupakan barista terlama di kafe ini. Dengan ketertarikan Fajar untuk bekerja bersama teman – teman tuli membuat perasaan Fajar sangat senang untuk melakukan pekerjaan nya.

Memulai karir dengan menjadi barista di kafe, dengan mendapatkan sebuah informasi pekerjaan dari teman nya menjadi barista. Dengan ini Fajar pun tertarik dan mencoba melamar ke Difabis Coffee & Tea ini untuk melamar di kafe ini dan menjadi barista di Difabis Coffee & Tea hingga saat ini.

Menjadikan Fajar sebagai pegawai terlama di kafe ini. Tidak sekedar untuk bekerja melainkan cara Fajar berkomunikasi dengan pelanggan ini membuat nya senang sekali untuk bertemu dengan para pelanggan.

Tidak hanya menjadi barista Fajar pun memiliki hobi yang cukup tidak biasa yaitu suka main motor trail yang pada dasarnya motor trail memiliki habitat di medan yang cukup curam. Fajar juga gemar sekali mengikuti lomba dengan motor trail nya.

Ketertarikan Fajar dengan Barista ini di dalam dunia kopi menjadikan Fajar sangat senang sekali bekerja di Difabis Coffee & Tea ini karena memiliki banyak teman untuk berinteraksi. Fajar dikenal sebagai salah satu pegawai yang introvert dibandingkan rekan kerja lainnya dibalik introvert nya Fajar ini juga menyimpan jiwa keberanian nya untuk mencoba hobi yang sangat memicu adrenalin.

Fajar pun memiliki pengalaman yang paling berkesan saat bekerja disana yaitu membuat seribu cangkir kopi untuk pelanggan dalam sebuah event, menurutnya ini salah satu pengalaman yang sangat bahagia dikarenakan membuat kopi dalam satu waktu dengan jumlah yang sangat banyak. Rasa betah Fajar pun dikarenakan partner kerja nya juga yang turut adil dalam bekerja seperti selalu adil dalam mengambil Keputusan.  


Antara kopi,teknologi,dan Kiky

Mengenal Kiky dan memiliki tantangan tersendiri ( Regina Fadhilah)

Selain fajar ada juga karyawan yang Bernama Muhammad Ananda Rizky yang akrab disapa Kiky, pria berkacamata yang berusia 24 tahun ini salah satu pegawai yang extrovert karena paling suka berinteraksi dengan para pelanggan nya beda dengan Fajar yang cenderung agak pendiam.

Memulai karirnya di tahun 2023, dengan mempunyai keinginan berkembang di dalam dunia perkopian ini, dengan minat awal memiliki ketertarikan kopi menjadikannya untuk terjun ke dalam dunia kopi dengan mendapatkan informasi pekerjaan ini dari temannya. Kiky juga mengasah ketertarikan ini dengan melakukan pelatihan nya sebelum terjun langsung untuk melayani pelanggan di kafe ini.

Selain itu Kiky juga turut memiliki keahlian di bidang IT (information technology) dengan memperoleh kemenangan yang menduduki juara pertama dan mendapatkan medali emas memiliki kemampuan yang sangat luar biasa ini menjadikan Kiky memiliki prestasi yang sangat membanggakan untuk diri nya dan kedua orang tuanya.

Sejak kecil ia sudah tertarik dengan teknologi komputer dan dunia olahraga, setelah ditekuni oleh nya berkembang minat untuk masuk ke dunia teknologi komputer dan sukses meraih medali emas pertama nya di tahun 2024 dalam lomba Global IT Challenge 2024 yang diselenggarakan di Filipina.

Tantangan yang dimiliki setiap pegawai cenderung sama yaitu pelanggan, karena kesulitan untuk berkomunikasi dengan para pegawai disana. Terlebih pelanggan nya memakai masker seperti yang diutarakan oleh Kiky dalam ketikannya.

“saya merasa sulit mencerna pelanggan terlebih yang memakai masker."

Dikarenakan para pegawai ini bisa mengerti cara berkomunikasi dengan pelanggan dan melihat cara berekspresi nya. Dibalik tantangan nya itu Kiky pun merasa senang, dalam pengalaman yang dimiliki nya terlebih saat turut serta menjadi barista utama.

Dalam event yang diselenggarakan oleh Difabis Coffee & Tea. Perasaan yang bahagia karena turut dipercaya dalam melibatkan dalam suatu event. Dalam hal ini Kiky pun percaya ia selalu dilibatkan dalam hal apapun.

Harapan dari dalam kafe

Para pegawai pun belajar memahami para pelanggan terlebih yang baru pertama kali datang untuk membeli nya. Para pegawai Difabis Coffee & Tea merasa senang dan antusias setiap kali bertemu dengan para pelanggan, terutama saat kafe mengadakan event khusus.

Suasana yang hangat dan interaksi yang ramah menjadi bagian dari pelayanan yang mereka banggakan. Dibalik tantangan yang menghampiri para pegawai tapi mereka percaya bisa melalui tantangan itu.

Lingkungan yang mendukung untuk para pegawai berkembang membuat nya nyaman dan juga betah disana. Jadi dalam tantangan yang dimiliki namun, lingkungan yang selalu mendukung dalam berkegiatan itu bisa menjadi salah satu alasan para pegawai, yang betah terlebih selalu dilibatkan secara adil dalam mengambil Keputusan itu membuat mereka dihargai sepenuhnya.

Dalam hal ini para pegawai berharap dengan lebih banyaknya lapangan pekerjaan yang dibuka untuk teman-teman disabilitas. Karena para pegawai disini ingin sekali melihat teman-teman nya berkembang seperti nya, dengan berharap untuk pemerataan lapangan pekerjaan ini memudahkan untuk bekerja bagi teman disabilitas.  

Part of story


Pengalaman Dua Dunia: Mahasiswa dan Komunitas Tunarungu

Di tengah keriuhan Jakarta, sebuah kafe tenang memberikan lebih dari sekadar kopi. Tiga mahasiswa dan seorang pengunjung tunarungu saling berbagi pengalaman di ruang inklusif bernama Difabis Coffee & Tea

Mobirise Website Builder

Pengalaman pertama memasuki kafe Difabis dengan memiliki pegawai tunarungu (Afifah Adhawiyyah)

Perjumpaan Pertama yang Tak Biasa 

Di siang hari yang panas, tiga orang mahasiswa tampak berjalan menyusuri kota yang sangat padat dan ramai. Gedung gedung tinggi, lalu lalang masyarakat yang tak pernah berhenti. Mereka menemukan sebuah tempat yang kecil, tenang dan terasa berbeda dari sekitarnya.

Terletak tak jauh dari stasiun  yang menjadi penghubung menuju berbagai arah kota Jakarta, Difabis Coffee & Tea berdiri sederhana di tengah keramaian. Meski berada di titik strategis yang dipadati oleh masyarakat, tempat ini justru menyediakan tempat yang nyaman di dalamnya.

Namun ketiga mahasiswa itu melangkah masuk disambut suasana yang sangat berbeda. Tempat kecil itu dipenuhi oleh aroma yang memiliki ciri khas tertentu, Meja minimalis serta cahaya yang memantul. Tak menyangka mereka menumakan tempat yang senyaman ini ditengah lalu lalang manusia yang padat setiap harinya

Dan disinilah awal ketiga mahasiswa tersebut merasakan pengalaman pertama, bukan hanya dari menikmati kopinya saja, tapi juga berinteraksi dengan pegawai tunarungu yang melayani dengan sepenuh hati dan isyarat yang bermakna.

Mobirise Website Builder

Suasana tenang di Difabis Coffee & Tea (Afifah Adhawiyyah)

Bukan Hanya Sekedar Kafe

Keheningan yang tercipta bukan karena sepi, canggung, melainkan karena adanya bahasa lain yang digunakan sehari harinya, bahasa yang tidak bersuara, namun penuh pengertian. Para pegawai yang semuanya yaitu teman-teman tunarungu menyambut pelanggan dengan gerak tangan, senyum hangat, dan pelayanan yang sangat tulus.

“Interaksi pertama kali dengan pegawainya jujur sedikit sulit, tetapi karena dibantu dengan alat komunikasi tangan, jadi aku merasa terbantu,” ujar Afifah, salah satu mahasiswi.

Di meja kasir, terlihat papan kecil bertuliskan “Halo, saya tuli”. Tak jauh dari posisi situ terdapat poster yang berisi gambar, bahasa isyarat terpajang rapi. Ini bukan hanya dekorasi, melainkan jembatan yang memudahkan komunikasi antara pengunjung dan pelayan, terutama bagi mereka yang belum terbiasa berinteraksi dengan tunarungu. 

 Interaksi mahasiswa dengan salah satu pegawai tunarungu difabis coffe & tea (Afifah Adhawiyyah)

Dari interaksi yang sederhana itu, ketiga mahasiswi tersebut mulai memahami bahwa kafe Difabis ini bukan sekedar tempat singgah, melainkan tempat pertemuan dua dunia antara mereka yang terbiasa mendengar, dan mereka yang suka dengan keheningan. Tak perlu suara keras untuk merasa terhubung. Terkadang, perhatian muncul dalam gerakan yang paling tenang.

Rasa yang Meninggalkan Kesan

Menurut regina, suasana tenang di Difabis Coffee & Tea bukanlah keheningan yang canggung. Ia justru merasa nyaman.

“Rasanya beda dari kafe lainnya, lebih tenang tapi nyaman dan pelayannya itu ramah banget meskipun menggunakan bahasa isyarat,” ujarnya.

Hal yang sama dirasakan Kerren, Ia menyatakan bahwa adanya poster isyarat sangat membantunya saat ingin memesan.

“Mereka memang menggunakan bahasa isyarat, tetapi pelayan nya tetap ramah dan menyenangkan” katanya.

Ia juga menambahkan bahwa Difabis Coffee & Tea memberi pengalaman sosial yang tidak biasa, namun justru mendapatkan ilmu baru.

Mobirise Website Builder

Menikmati kopi sambil bersantai bersama
(Afifah Adhawiyyah)

Mobirise Website Builder

Berinteraksi dengan Pegawai Tunarungu Difabis Coffee & Tea
(Afifah Adhawiyyah)

Ketiga mahasiswi tersebut setuju bahwa Difabis memberikan pengalaman yang berkesan. Tidak hanya dari suasana yang tenang, tetapi juga tentang menghargai perbedaan dan kesetaraan. Mereka belajar bahwa komunikasi tidak selalu harus dengan suara, kadang tatapan, senyuman, dan gerakan tangan jauh lebih bermakna.

Minuman yang mereka pilih bervariasi. Afifah yang menyukai Red Velvet dingin karena ia tidak suka kopi. Regina memilih dark choco hazelnut dengan rasa pahit yang tepat di lidahnya. Sementara Kerren lebih menyukai peach tea yang segar dan ada potongan buahnya. Bagi mereka, pengalaman memesan minuman saja sudah menjadi pengalaman baru yang menyenangkan.

Meskipun ruangannya tidak begitu besar, suasana yang tenang menjadikan tempat yang istimewa. Baik mahasiswi maupun pengunjung tunarungu merasa diterima, dihargai, dan terhubung dalam kesederhanaan. Mereka berharap Difabis Coffee & Tea bisa diperluas agar lebih banyak pengunjung merasakan pengalaman sama, bahwa belajar komunikasi tidak selalu menggunakan suara.

“Kafe ini bukan hanya tempat ngopi, tapi tempat belajar memahami,” ungkap Kerren.

Tempat ini bukan hanya tentang kopi, tetapi tentang pertemuan dua dunia yang saling menghargai. Dan setelah hari itu, mereka tahu Difabis bukan hanya akan dikunjungi sekali, tetapi akan selalu dikunjungi, karena di sana, suara tak harus terdengar untuk bisa dimengerti.

Berbagi pengalaman pertama berinteraksi dengan pegawai tunarungu Difabis Coffee & Tea
(Afifah Adhawiyyah)

Menyatu dalam Rasa: Kisah Dua Pengunjung Tunarungu 

Difabis Coffee & Tea bukan sekadar tempat ngopi bagi Harcen dan Egy, pengunjung setia dari komunitas disabilitas. Bagi mereka, kafe ini bukan hanya tempat untuk menikmati minuman atau makanan, tetapi juga tempat aman untuk diri sendiri.

Harcen, pria asal Jawa Tengah, menyebut Difabis sebagai tempat untuk bertemu teman tuli dan teman yang bisa mendegar, dimana semua orang bisa belajar dan saling mengerti melalui bahasa isyarat.

Sementara itu, teman perempuannya Egy menilai bahwa Difabis tak hanya nyaman tapi juga memberi kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas. Ia berharap kafe ini bisa menjadi wadah pelatih barista bagi lebih banyak disabilitas.

Wawancara dengan Ka Harcen salah satu pengunjung tunarungu
(Afifah Adhawiyyah)

Menurut Harcen dan Egy, Difabis menghadirkan pengalaman yang inklusif. Pelanggan umum yang terbuka belajar bahasa isyarat membuat mereka merasa dihargai.

“Di sini, kita nggak merasa berbeda. Kita merasa dihargai,” ujar Harcen.

Ruang kesetaraan di Setiap Layanan

Menurut Egy, salah satu hal yang paling membedakan Difabis dari kafe lainnya yaitu cara berkomunikasi.

“Kalau di kafe biasa, stafnya biasanya non-disabilitas dan pakai komunikasi oral. Teman-teman tuli sering bingung, akhirnya cuma tunjuk-tunjuk menu,” katanya.

Sedangkan di Difabis, semua staff menggunakana bahasa isyarat, sehingga pesan bisa mudah dan jelas disampaikan.

“Disini kami bisa ngomong menggunakan bahasa kami sendiri,” kata Egy.

Harcen dan Egy merasa bangga ketika mengetahui semua makanan dan minuman yang dibuat oleh teman teman tuli, ini menunjukkan bahwa disabilitas tidak menghalangi kreativitasnya. Harcen menikmati kopinya, sedangkan temannya lebih memilih matcha yang sesuai dengan kesukannya.

Harapan mereka sederhana, agar lebih banyak tempat seperti Difabis yang memberi ruang dan kepercayaan penuh pada penyandang disabilitas.

 “Semoga makin banyak tempat seperti Difabis, di mana disabilitas tidak hanya diterima, tapi juga diberi kepercayaan,” akhir kata Egy.

Karena pada akhirnya, yang dibutuhkan bukan sekadar tempat, tapi kesempatan. Difabis menghadirkan harapan bahwa ruang publik bisa tumbuh jadi ruang bersama yang setara dan saling memahami.

Wawancara dengan Ka Egy salah satu pengunjung tunarungu
(Afifah Adhawiyyah)

Part of story

Universitas Bakrie

Kawasan Rasuna Epicentrum, Kav C-22 Jl. H. Rasuna Said, RT 2 / RW 5, Karet Kuningan, Jakarta Selatan, Jakarta 12940

UAS Project
  • Mata Kuliah Berita Online
  • Semester Genap Tahun Ajaran 2024 / 2025
Kelompok 6
  • Kerren Permata Mukti
  • Regina Fadhilah Oktaviani
  • Afifah Adhawiyyah

No Code Website Builder